PERANAP-INHU | Poskilat.com
Menanggapi pemberitaan yang beredar mengenai kerusakan jalan rabat beton di Desa Semelinang Tebing, sejumlah tokoh masyarakat setempat angkat bicara untuk meluruskan informasi agar tidak terjadi opini publik yang menyesatkan.
Para tokoh masyarakat menegaskan bahwa narasi yang menyudutkan kualitas pembangunan desa perlu dilihat secara objektif berdasarkan fakta lapangan dan kronologi waktu yang sebenarnya.
Bangunan Tahun 2022, Bukan Proyek Baru
Tokoh masyarakat meluruskan kekeliruan data terkait tahun pembangunan. Jalan tersebut merupakan hasil swadaya dan program desa tahun 2022, sehingga klaim yang menyebutkan itu adalah proyek tahun 2025 adalah salah total.
”Jalan ini sudah berdiri sejak tiga tahun lalu. Jika sekarang muncul kerusakan, itu adalah hal yang wajar karena faktor usia pakai dan paparan cuaca yang ekstrem selama bertahun-tahun, bukan karena pengerjaan yang asal-asalan,” ungkap salah satu perwakilan tokoh masyarakat.
Tantangan Geografis: Lokasi Rawa dan Langganan Banjir Secara teknis, lokasi pembangunan berada di atas lahan rawa dengan kondisi tanah yang sangat labil. Para tokoh mengajak pihak-pihak terkait untuk melihat langsung kondisi terkini di lapangan.
Rendam AirHingga saat ini, lokasi tersebut masih terendam banjir. Faktor Alam Beton yang terus-menerus terendam air rawa secara alami akan mengalami penurunan kualitas (korosi/pelapukan) lebih cepat dibanding jalan di tanah kering.
Pembangunan Transparan dan Sesuai Prosedur Tokoh masyarakat menjamin bahwa proses pembangunan pada tahun 2022 telah melewati mekanisme yang benar.
Musyawarah Desa: Proyek ini merupakan aspirasi warga yang disepakati bersama.
Pengawasan Terbuka: Saat pengerjaan berlangsung, papan informasi dipasang secara transparan dan diawasi langsung oleh masyarakat.
Ajakan untuk Berpikir Objektif Masyarakat menyayangkan adanya pihak yang mencoba memelintir situasi tanpa mempertimbangkan tantangan alam yang dihadapi warga Semelinang Tebing.
”Kami yang setiap hari menggunakan jalan ini tahu persis bagaimana sulitnya membangun infrastruktur di atas lahan rawa. Mari kita objektif melihat bencana banjir yang berulang sebagai faktor utama kerusakan, bukan justru mencari-cari kesalahan administratif yang tidak mendasar,” tutupnya.
Pernyataan Bersama
Tokoh Masyarakat Desa Semelinang Tebing
Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu
Redaksi
















