INDONESIA | Poskilat.com
Acong adalah seorang jurnalis. Bukan jurnalis terkenal yang wajahnya sering muncul di layar kaca, melainkan jurnalis lapangan, yang lebih sering berkubang di debu jalanan dan berburu berita tanpa pernah memikirkan imbalan materi.
Baginya, kebenaran adalah imbalan tertinggi. Namun, kebenaran itu tidak bisa membayar biaya sekolah, apalagi membeli buah durian di musimnya. Acong memiliki empat permata hati: Kak Wawa (anak pertama, Adit, Naira, dan si bungsu Gania.
Istrinya, atau ibu sang buah hati bernama Lidya, adalah tiang penyangga yang sabar, selalu memahami idealisme suaminya meski perut keluarga sering kali harus berkompromi.
Sore itu, hawa musim durian begitu kuat. Aroma manis menusuk hidung bercampur udara lembap. Keempat anaknya sedang bermain di teras, namun pandangan mereka terus tertuju pada gerobak durian yang lewat di ujung gang.
”Ayah…” panggil Gania, si bungsu, dengan suara lirih. Matanya yang polos sudah berkaca-kaca. “Iya, Nak?” jawab Acong sambil pura-pura sibuk membaca draf berita di laptop tuanya. “Gania mau durian. Hanya satu saja, Ayah,” pintanya, sambil memeluk lutut ayahnya.
Permintaan itu seperti pisau tumpul yang menghujam dada Acong. ”Tadi… teman-teman Wawa bilang, kalau makan durian itu seperti makan emas,” sahut Kak Wawa, yang biasanya paling dewasa dan pengertian. “Mereka bilang, durian Ayah, ya?”
Acong menatap mata Lidya, yang hanya bisa menggeleng pelan.
Ia tahu, uang kas keluarga hari ini benar-benar nol. Uang yang baru diterimanya dari honor liputan hanyalah secarik janji yang belum terwujud, dan dompetnya kini hanya berisi KTP dan kartu pers.
Adit dan Naira kini ikut mendekat. Mereka bukan anak-anak yang cerewet, tidak pernah menuntut mainan mahal atau pakaian bermerek. Mereka tahu betul bagaimana sulitnya pekerjaan ayah mereka.
Selama ini, mereka hanya meminta hal-hal sederhana: cerita sebelum tidur, waktu bermain bersama, atau sesekali, jajanan pasar. Tapi, hari ini, permintaan itu adalah durian. Satu buah durian.
Acong menarik napas panjang. Ia menggendong Gania, memeluk Wawa, Adit, dan Naira sekaligus. “Nak, Ayah janji. Nanti malam, kalau Ayah pulang, Ayah pasti bawa durian paling manis untuk kalian. Kalian percaya Ayah, kan?” katanya, suaranya berusaha terdengar mantap.
Keempat anak itu mengangguk, namun mata Gania dan Naira masih menyiratkan kesedihan yang dalam. Air mata Gania akhirnya tumpah.
”Gania mau sekarang, Ayah… Hanya satu,” isaknya, tangisan anak kecil yang murni dan tulus, bukan tangisan menuntut harta, melainkan kerinduan akan rasa manis yang belum pernah dikecapnya.
Acong mencium kening Gania. Ia menahan gejolak di dadanya, rasa gagal yang begitu menusuk. Seorang jurnalis yang berani menghadapi koruptor besar, seorang pria yang berani berdiri di garis depan konflik, kini tak berdaya hanya karena satu buah durian.
Lidya menghampiri, memegang tangan Acong. “Tidak apa-apa, Bang. Anak-anak hanya ingin rasa. Besok, kita cari cara,” bisiknya menenangkan.
Malam itu, Acong pamit keluar. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia menyusuri jalanan, bukan mencari berita, melainkan mencari solusi. Ia bahkan sempat berpikir untuk melanggar idealismenya sejenak, menerima ‘uang kopi’ dari narasumber, tapi suara hati dan bayangan wajah anak-anaknya yang polos menghentikannya.
Mereka tidak dididik untuk memakan uang yang didapat dengan cara kotor.
Hingga tengah malam, Acong kembali dengan tangan kosong, namun ia membawa hati yang jauh lebih berat.
Sesampainya di rumah, ia melihat keempat anaknya sudah tertidur lelap di kasur. Lidya duduk di tepi kasur.
”Mereka tidur sambil memeluk bantal, dan Lidya menirukan bahasa anak Bang. Kata Wawa, dia membayangkan bantal itu durian” kata Lidya pelan, lalu air matanya ikut menetes.
Acong mendekat. Ia mencium kening satu per satu anaknya. Ia melihat Gania, si bungsu, yang air matanya masih menyisakan jejak kering di pipi. Mereka tidak pernah meminta apa-apa.
Mereka hanya meminta janji yang paling sederhana. Dan aku, seorang jurnalis yang menjunjung tinggi kebenaran, malam ini gagal menepati janji. Di tengah keheningan malam, Acong menangis dalam diam.
Bukan karena ia miskin harta, tapi karena ia merasa miskin dalam memenuhi keinginan hati anak-anaknya yang begitu sederhana dan murni.
Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Aku akan terus menulis, terus mencari kebenaran, bukan untuk diriku, tapi agar kelak, tidak ada lagi air mata di pipi anak-anakku, hanya karena satu buah durian.”
AR
















